Minggu, 08 Mei 2011

Doa Seorang (Calon) Suami


Ya Alloh, Wahai Dzat Yang Maha Menguasai Hati, luruskan niatan dalam hatiku menujunya agar mampu ku sempurnakan agamaku...

Wahai Tuhan seru sekalian alam, bimbinglah hatiku agar mampu ku tunjukkan padanya betapa nikmatnya kehidupan berumah tangga dalam tali aqidah dan syariah...

Ya Alloh, bimbinglah kami untuk selalu bersyukur atas kenikmatan yang Engkau berikan...

Ya Rohmaan, Ya Rohiim, Ya Kariim, jadikanlah diriku kenangan yang baik bagi istriku jika Engkau mencabut nyawaku terlebih dahulu...Dan jadikanlah pula istriku kenangan yang baik bagiku jika Engkau mencabut nyawanya terlebih dahulu...

Ampunilah kami Ya Alloh, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kebangkitan kelak, hari dimana harta, suami-istri, dan anak-anak keturunan tiada berharga...Aamiin...


sumber : Buku "Bismillah...Jadilah Isteriku" karya Masnur Marzuki

Nasehat Untuk Calon Istri Jagalah kemuliaanmu. Jangan pernah kamu menyakiti ayah dan ibumu.




Nasehat Untuk Calon Istri
Jagalah kemuliaanmu.
Jangan pernah kamu menyakiti ayah dan ibumu.

Bila kau menikah, maka hormatilah suamimu dan hargailah ucapannya.

Jaga kehormatan suamimu karena engkau adalah laksana pakaian baginya yang mampu menampakkan kebaikannya dan menutupi kekurangannya.

Pergunakanlah waktu kedatangannya dari pekerjaannya. Jadilah kau orang yang menyenangkannya dengan senyum dan kasih sayangmu padanya.

Jangan pernah kau durhaka pada suami dalam keadaan apapun, khususnya di saat ia sedang dalam kondisi sulit.

Ingatlah, wanita dikatakan sebagai golongan yang paling mudah mendapatkan surga sekaligus paling mudah mendapatkan bagian neraka.

Mudah baginya memasuki surga karena dia hanya perlu berbuat kebaikan dan taat kepada suaminya dan mudah baginya mendapat balasan neraka apabila ia mendurhakai dan menghina suaminya sendiri.

Oleh karenanya, peluang inilah yang harus kau rebut dengan taat dan menghargai suamimu.

Keras kepala dari kedua belah pihak hanya bisa diselesaikan dengan pemutusan hubungan suami isteri dan itu sangat tidak baik untukmu.

Edifikasikan keluarganya dengan semua yang baik. Hormatilah ibunya dan ketahuilah bahwa ia tetap menjadi ibunya walau ia kini telah menjadi suamimu.

Allah telah mewajibkan suamimu untuk tetap taat kepada ibunya dan mencintainya dengan tulus sebagaimana kelak anak keturunanmu pun diwajibkan hal yang sama terhadapmu.
Hormati pula ayahnya dan jadikanlah ia laksana ayahmu.

Anak – anakmu adalah bagian dari tubuh dan darahmu.

Jadikanlah prioritas utamamu untuk dapat merawat mereka dengan penuh kasih.

Jadikanlah pula mereka generasi yang bahagia dan mencintai negerinya dan keluarganya.

Engkau adalah ratu di rumahmu dan kau mengendalikan kerajaan kecil di rumahmu.

Karenanya siapkanlah kemampuan hingga kau mampu menanggung amanat tersebut dan kaupun kelak mendapatkan keridhoan Ilahi.

Untukmu Calon Istri Dan Ibu Dari Anak-Anakku






Siapapun engkau, dimanapun engkau berada sekarang, ku hanya ingin engkau tahu, bahwa diri ini merindu akan hadirmu. Sungguh tak dapat ku pungkiri bahwa sepi ini hajatkan hadirmu disisi, ku akui bahwa ku hanyalah seorang lelaki biasa, dengan cinta yang biasa, oleh karenanya ku butuh hadirmu tuk jadikan cinta ini cinta yang tak lagi biasa. Ku pun sadari bahwa kau hanyalah seorang wanita biasa, maka ijinkan aku tuk buatmu jadi pribadi yang luar biasa dengan cinta yang penuh ketulusan tanpa banyak tuntutan, jua ku sadari padamu melekat kekurangan, namun ku ingin kau tahu bahwa ketika rembulan tak Purnama, tetap malam terhiasi teduh cahayanya, begitu pun inginku padamu, walau tak sempurna, kasih tulusmu kan tetap jadi hiasan hidupku, dengan balutan keanggunan cinta dalam indahnya taman takwa, berjalan kita bersama.

Tiada lelah ku mengusahakan dan berdoa kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala agar kita dipertemukan di gerbang pernikahan, gerbang yang kan antarkan ku sampai di taman hatimu tuk menyemai cinta ini. Duhai calon istriku, ku tak tahu dengan cara apa dan kapan Alloh kan pertemukan kita, ku ingin bersegera bertemu dan bersamamu namun tak ingin ku terperosok dalam suatu kertegesaan, yakinku bahwa Alloh kan pertemukan kita pada saatnya nanti, saat yang akan selalu kunanti, saat yang akan kusambut dengan penuh kesyukuran di hati. Kini dalam masa penantian ku kan persiapkan benih cinta ini, benih cinta karena Alloh yang kan ku semai di taman hatimu nanti, ku kan persiapkan bahu ini untuk kau jadikan sandaran ketika lelah dan letih menyambangimu, ku kan persiapkan tangan ini tuk membelaimu dengan penuh kasih sayang dan tuk usap air matamu ketika sedih menghampirimu. Mungkin terlihat sederhana, namun memang itulah yang kuinginkan, ku ingin mencintaimu dengan sederhana. Duhai calon istriku untaian kata ini tertulis dalam lembaran kerinduan hati, untukmu sajak sederhana kurangkai :

Duhai calon istri dan ibu dari anak-anakku
disini masih ku menanti hadirmu
dalam laju gerak sang waktu
berjalan dan berlariku tuk menggapaimu

Duhai calon istriku
ku yakin engkau kan datang
walau tak saat masa sekarang
ku yakin engkau kan hadir
membawa sepoi angin kasih yang semilir
karenanya ku kan terus mengusahakan
seiring doa dari hati yang terucap pada lisan

Duhai calon istriku
merinduku akan senyum manismu
merinduku akan teduh tatapanmu
merinduku akan kelembutan hatimu
merinduku akan kasih sayangmu
tunggulah diriku yang kan jemputmu
tuk labuhkan cinta di dermaga hatimu…

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN II

PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan merupakan proses pemilihan alternative tindakan untuk mencapai tujuan atau sasaran tertentu. Pengambilan keputusan dilakukan dengan pendekatan sistematis terhadap permasalahan melalui proses pengumpulan data menjadi informasi serta ditambah dengan faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan.
Tahap – tahap Pengambilan Keputusan
Menurut Herbert A. Simon ( Kadarsah, 2002:15-16 ), tahap – tahap yang harus dilalui dalam proses pengambilan keputusan sebagai berikut : 
1.   Tahap Pemahaman ( Inteligence Phace )
      Tahap ini merupakan proses penelusuran dan pendeteksian dari lingkup problematika serta proses pengenalan masalah. Data masukan diperoleh, diproses dan diuji dalam rangka mengidentifikasikan masalah.
2.   Tahap Perancangan ( Design Phace )
      Tahap ini merupakan proses pengembangan dan pencarian alternatif tindakan / solusi yang dapat diambil. Tersebut merupakan representasi kejadian nyata yang disederhanakan, sehingga diperlukan proses validasi dan vertifikasi untuk mengetahui keakuratan model dalam meneliti masalah yang ada.
3.   Tahap Pemilihan ( Choice Phace )
      Tahap ini dilakukan pemilihan terhadap diantaraberbagai alternatif solusi yang dimunculkan pada tahap perencanaan agar ditentukan / dengan memperhatikan kriteria – kriteria berdasarkan tujuan yang akan dicapai.
4.   Tahap Impelementasi ( Implementation Phace )
      Tahap ini dilakukan penerapan terhadap rancangan sistem yang telah dibuat pada tahap perancanagan serta pelaksanaan alternatif tindakan yang telah dipilih pada tahap pemilihan.
Jenis Keputusan
Keputusan – keputusan yang dibuat pada dasarnya dikelompokkan dalam 2 jenis, antara lain ( Herbert A. Simon ) : 
1.      Keputusan Terprogram
Keputusan ini bersifat berulang dan rutin, sedemikian hingga suatu prosedur pasti telah dibuat menanganinya sehingga keputusan tersebut tidak perlu diperlakukan de novo (sebagai sesuatu yang baru) tiap kali terjadi.
2.      Keputusan Tak Terprogram
Keputusan ini bersifat baru, tidak terstruktur dan jarang konsekuen. Tidak ada metode yang pasti untuk menangani masalah ini karena belum ada sebelumnya atau karena sifat dan struktur persisnya tak terlihat atau rumit atau karena begitu pentingnya sehingga memerlukan perlakuan yang sangat khusus.
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN
Sistem Pendukung Keputusan merupakan suatu sistem interaktif yang mendukung keputusan dalam proses pengambilan keputusan melalui alternatif – alternatif yang diperoleh dari hasil pengolahan data, informasi dan rancangan model.
Pengertian Sistem Pendukung Keputusan
Menurut Keen dan Scoot Morton :
“ Sistem Pendukung Keputusan merupakan penggabungan sumber – sumber kecerdasan individu dengan kemampuan komponen untuk memperbaiki kualitas keputusan. Sistem Pendukung Keputusan juga merupakan sistem informasi berbasis komputer untuk manajemen pengambilan keputusan yang menangani masalah – masalah semi struktur “
Dengan pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa sistem pendukung keputusan bukan merupakan alat pengambilan keputusan, melainkan merupakan sistem yang membantu pengambil keputusan dengan melengkapi mereka dengan informasi dari data yang telah diolah dengan relevan dan diperlukan untuk membuat keputusan tentang suatu masalah dengan lebih cepat dan akurat. Sehingga sistem ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengambilan keputusan dalam proses pembuatan keputusan.
Karakteristik Sistem Pendukung Keputusan
Dari pengertian Sistem Pendukung Keputusan maka dapat ditentukan karakteristik antara lain :
1.   Mendukung proses pengambilan keputusan, menitik beratkan pada management by perception
2.   Adanya interface manusia / mesin dimana manusia (user) tetap memegang control proses pengambilan keputusan
3.   Mendukung pengambilan keputusan untuk membahas masalah terstruktur, semi terstruktur  dan tak struktur
4.   Memiliki kapasitas dialog untuk memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhan
5.   Memiliki subsistem – subsistem yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai kesatuan item
6.   Membutuhkan struktur data komprehensif yang dapat melayani kebutuhan informasi seluruh tingkatan manajemen
  Komponen Penyusun Sistem Pendukung Keputusan
Suatu Sistem Pendukung Keputusan (SPK) memiliki tiga subsistem utama yang menentukan kapabilitas teknis sistem pendukung keputusan, antara lain :
1.   Subsistem Manajemen Basis data
2.   Subsistem Manajemen Basis Model
3.   Subsistem Dialog

Subsistem Manajemen Basis Data
Subsistem data merupakan bagian yang menyelediakan data – data yang dibutuhkan oleh Base management Subsystem (DBMS). DBMS sendiri merupakan susbsistem data yang terorganisasi dalam suatu basis data. Data – data yang merupakan dalam suatu Sistem Pendukung Keputusan dapat berasal dari luar lingkungan. Keputusan pada manajemen level atas seringkali harus memanfaatkan data dan informasi yang bersumber dari luar perusahaan.
     Kemampuan subsistem data yang diperlukan dalam suatu Sistem Pendukung Keputusan, antara lain :
a.  Mampu mengkombinasikan sumber – sumber data yang relevan melalui proses ekstraksi data
b.   Mampu menambah dan menghapus secara cepat dan mudah
c.   Mampu menangani data personal dan non ofisial, sehingga user dapat bereksperimen dengan berbagai alternatif keputusan
d.   Mampu mengolah data yang bervariasi dengan fungsi manajemen data yang luas
Subsistem Manajemen Model
Subsistem model dalam Sistem Pendukung Keputusan memungkinkan pengambil keputusan menganalisa secara utuh dengan mengembangkan dan membandingkan alternative solusi. Intergrasi model – model dalam Sistem Informasi Manajemen yang berdasarkan integrasi data – data dari lapangan menjadi suatu Sistem Pendukung Keputusan.
           Kemampuan subsistem model dalam Sistem Pendukung Keputusan antara lain :
      1.   Mampu menciptakan model – model baru dengan cepat dan mudah
2.   Mampu mengkatalogkan dan mengelola model untuk mendukung semua tingkat pemakai
3.   Mampu menghubungkan model – model dengan basis data melalui hubungan yang sesuai
4.   Mampu mengelola basis model dengan fungsi manajemen yang analog dengan database manajemen
Subsistem Dialog
Subsistem dialog merupakan bagian dari Sistem Pendukung Keputusan yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan representasi dan mekanisme control selama proses analisa dalam Sistem Pendukung Keputusan ditentukan dari kemampuan berinteraksi anatara sistem yang terpasang dengan user. Pemakai terminal dan sistem perangkat lunak merupakan komponen – komponen yang terlibat dalam susbsistem dialog yang mewujudkan komunikasi anatara user dengan sistem tersebut. Komponen dialog menampilkan keluaran sistem bagi pemakai dan menerima masukkan dari pemakai ke dalam Sistem Pendukung Keputusan. Adapun subsistem dialog dibagi menjadi tiga, antara lain :
1.     Bahasa Aksi (The Action Language)
Merupakan tindakan – tindakan yang dilakukan user dalam usaha untuk
membangun komunikasi dengan sistem. Tindakan yang dilakukan oleh user untuk menjalankan dan mengontrol sistem tersebut tergantung rancangan sistem yang ada.
2.     Bahasa Tampilan (The Display or Presentation Langauage)
Merupakan keluaran yang dihasilakn oleh suatu Sistem Pendukung Keputusan dalam bentuk tampilan – tampilan akan memudahkan user untuk mengetahui keluaran sistem terhadap masukan – masukan yang telah dilakukan.
3.     Bahasa Pengetahuan (Knowledge Base Language)
Meliputi pengetahuan yang harus dimiliki user tentang keputusan dan tentang prosedur pemakaian Sistem Pendukung Keputusan agar sistem dapat digunakan secara efektif. Pemahaman user terhadap permasalahan yang dihadapi dilakukan diluar sistem, sebelum user menggunakan sistem untuk mengambil keputusan.
Tingkat Teknologi Dalam Sistem pendukung Keputusan
Dalam Sistem Pendukung Keputusan terdapat tiga keputusan tingkatan perangkat keras maupun lunak. Masing – masing tingkatan berdasarkan tingkatan kemampuan berdasarkan perbedaan tingkat teknik, lingkungan dan tugas yang akan dikerjakan. Ketiga tingkatan tersebut adalah :
a.   Sistem Pendukung Keputusan (Specific DSS)
b.   Pembangkit Sistem Pendukung Keputusan (DSS Generatorr)
c.   Peralatan Sistem Pendukung Keputusan (DSS Tools)


Kamis, 14 April 2011

Doa Minta Jodoh (Surat Terbuka Untuk Tuhan)

Tuhan...

Bolehkan aku mengintip sedikit, cukup wajahnya saja Tuhan, siapa yang jadi istriku kelak… Karena, jika telah kuketahui sosoknya sebelumnya.. Aku tak perlu khawatir akan keraguanku.

Pun, jika dia masih jauh dari jangkauanku, dengan senang hati aku akan memperjuangkannya, meskipun harus bercucur keringat darah karenanya.

Tuhan...

Tahukah Engkau Tuhan... Karena Engkau begitu pelit dengan segala rahasia-Mu, telah banyak hati yang terzalimi. Bahkan mungkin, nyaris melakukan tindakan yang jauh dari ampunan-Mu, yaitu merebut minuman yang harusnya menjadi hak serangga. Tak kasihan kah kau pada serangga itu Tuhan...

Ah! Maaf Tuhan... Jadi OOT. Jangan di-bata ya Tuhan.. :D

Tuhan..

Jika memang Engkau kekeuh tak berkenan memberi bocoran, pun tak mempan suap, it's ok Tuhan.

Aku pasrahkan semuanya dalam kehendak-Mu…

Jika kau memaksa menjodohkanku dengan Sandra Dewi, aku pun tak punya pilihan lain untuk menolak Tuhan...

Tapi, kurasa kasihan nanti.. Dunia akan gempar! Para ilmuwan akan panik! Mengetahui fenomena alam ini. Karena dalam era modern seperti sekarang, mu'jizat sudah dianggap hal yang absurd!

Untuk itu, tak perlulah Engkau memaksakan jodohku seorang wanita sempurna fisiknya Tuhan. Cukuplah, seorang yang membuatku nyaman ketika bersamanya.

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

Tak perlulah dari keluarga ningrat. Cukuplah, jika ia dan keluarganya ikhlas menerimaku dan keluargaku menjadi bagian keluarga mereka, sama seperti keikhlasanku dan keluargaku menerima mereka menjadi keluarga kami yang baru.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS.Al-Hujurat(49):13).

Tak perlu memiliki harta melimpah, tapi cukuplah ia gemar bersedekah.

...dan persetubuhan salah seorang dari kalian (dengan isterinya) adalah shadaqah." [alhadits]

Tak perlu berbudi pekerti luhur, tapi semoga ia bukan wanita keras kepala, tipis nuraninya, dan buta mata hatinya.

Tak perlu memiliki kecerdasan dan tingkat intelejensia di atas rata-rata, tapi cukuplah jika ia sadar dengan kerelaan menyerahkan diri sepenuhnya dalam tanggung jawabku.

Tak perlu harus selalu memahamiku, tapi cukuplah ia jika tak memberatkanku.

Tak perlu harus selalu melayaniku, tapi cukuplah jika ia ikhlas dalam keterpurukanku.

Tak perlu harus pintar masak, tapi cukuplah jika ia sadar dan mengerti bahwa dalam makanan ada keberuntungan, dan keberuntungan itu 'mahal'. Yang harganya tak bisa terbeli dengan ke'mubazir'an.

Tak perlu harus pintar mengurus rumah, tapi cukuplah jika ia bisa menjaga kehormatan 'rumah'. Orang jawa bilang: Mikul dhuwur, mendhem jero.

Tak perlu harus pintar dalam mendidik anak, tapi cukuplah jika ia tahu dan sadar, bahwa waktu kebersamaan tak bisa digantikan uang jajan. Dan, kasih sayang tak bisa digantikan maaf dan penyesalan.

Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).

Tak perlu seorang alim, tapi cukuplah jika ia bersedia mengingatkanku dan mau kuingatkan jika masing-masing dari kami berada dalam kekhilafan.

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).

Ah! Requestku kebanyakan ya Tuhan...

Maaf ya Tuhan..

Tapi, bagaimanapun ia, jika ia pilihan-Mu, aku yakin itu terbaik untukku...

Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan rizki yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).


Last but Not Least Tuhan…

Ada ulama yang mengatakan, "Jodoh itu di Tangan Tuhan, tapi kalau ga diambil ya di Tangan Tuhan terus!"

Apa itu benar Tuhan?

Ah! Rahasia lagi...

No Prob Tuhan..

Karena aku tahu, dibalik semua rahasia-Mu, terdapat kebaikan yang memaksa setiap orang untuk terus meningkatkan ikhtiar dan tawakkalnya.

"Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49)

Akhirul kalam..

Terima kasih Tuhan telah mendengarkan rajukanku, hamba-Mu yang manja ini..

Ttd

RAHASIA‼!

(
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui." (QS. An Nuur (24) : 32).

Senin, 04 April 2011

Selamat Datang di Dunia Muda-Mudi

Emang sih, zaman bertukar, musim berganti. Tapi, pergaulan muda-mudi masiiih aja dilematis. Serba salah.

Dulu, di masa Siti Nurbaya, banyak muda-mudi menjalani ‘kawin paksa’. Seorang pemuda yang mondar-mandir di depan rumah seorang gadis bisa babak-belur ‘dipermak’ orang sekampung. Kini di era “Pernikahan Dini”, banyak anak belia ‘terpaksa kawin’. Sepasang remaja yang berangkulan dan berciuman di dalam mal, di depan mata orang banyak di siang hari bolong, hanya mengundang ketidak-acuhan atau tatapan iri dari orang2 di sekitarnya.

Hiiii…. Merinding bulu roma kami ngeliat kasus2 main paksa. Di satu sisi, mencuat kasus2 ‘kawin paksa’ dan ‘pingitan seketat-ketatnya’. Di sisi lain, merebak pula kasus2 ‘terpaksa kawin’ dan ‘pergaulan sebebas-bebasnya’. Serba salah, kan?

Gimana kalo tiada paksaan? Belum tentu aman, euy! Bebas nikah pun ternyata nggak ngejamin kita luput dari masalah. Bener2 bikin penasaran.

Contohnya, di forum diskusi MyQuran.com «pd tgl: 12/25/02 jam 02:43:34», seorang ikhwan di Yogya yang bernama Jarot ngungkapin masalah “Pacaran Salah, Nikah Salah Juga” berikut ini:

Akhi wa Ukhti, semasa ‘jahiliah’ saya dulu, terus terang saja—seperti kebanyakan remaja lainnya—saya juga beberapa kali pacaran. Namun semuanya berantakan di tengah jalan begitu saja tanpa alasan-alasan yang prinsipil. Makanya, saya berpikir pacaran lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Apalagi belakangan saya nyantri kembali. Sebagai ikhwan tentu saja saya mencoba tidak pacaran dan langsung menikah saja dengan salah satu akhwat (meski rasanya lucu menikah dengan seseorang yang belum begitu kita kenal dekat. Bagaimana mau kenal dekat jika baru sedikit akrab saja sudah dibilang khalwat atau ikhtilath?). Eh, ternyata langsung menikah (tanpa pacaran dulu) juga salah. Artinya ya bubar.

Oooo… Iya, sih. Repot juga kalo langsung nikah tanpa kenal dekat lebih dulu. Iya kalo kebetulan cocok satu sama lain; kalo enggak, bubarlah pernikahan seperti pada kasus ikhwan Jarot tersebut.

Nunda Nikah Salah, Nikah Dini Pun Salah

Kami memaklumi, tindakan sebagian saudara kita (termasuk Jarot dalam curhat di atas) yang cepet2 nikah tanpa kenal dekat itu lantaran tingginya semangat mereka dalam ber-Islam. Sepengetahuan mereka, hampir semua proses menuju pernikahan di zaman Nabi berlangsung singkat sekali. Karenanya, mereka pun ingin cepet2 nikah sesuai kebiasaan pada masa Rasul itu.

Padahal, ketimbang pada masa Rasul, kini dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk ketemu jodoh yang sreg di hati. Makanya, jodoh pun tak kunjung tiba. Repot, kan?

Repotnya lagi, bersamaan dengan masa penantian jodoh yang tak kunjung tiba, kebutuhan akan kasih-sayang pada diri muda-mudi zaman sekarang ternyata kurang terpenuhi.

Gimana enggak? Terutama pada masyarakat perkotaan, gaya hidup individualistik kian merebak. Jangankan dengan tetangga desa, dengan tetangga sebelah rumah pun kurang begitu hangat. Jangankan hubungan kasih-sayang dengan saudara sepupu, dengan sesama saudara kandung pun seringkali sedingin salju Kutub Selatan.

Dalam kondisi kekurangan kasih-sayang gitu, apa saja yang diserap oleh mata dan telinga kawula muda kita setiap hari dan setiap malam? Peratiin!

Lagu remaja gimana yang paling rajin membombardir telinga muda-mudi? Yang romantis. Sinetron dan film remaja gimana yang paling giat memikat mata muda-mudi? Yang romantis. Cerpen dan novel gimana yang paling tekun merasuki hati-sanubari muda-mudi? Yang romantis. Segalanya serba romantis.

Nah! Begitu tersaji ‘fast food’ (yakni romantisnya si dia) yang menggiurkan di depan hidung, bagaimana mungkin air liur kaum remaja itu tak menetes? Ketika kekurangan kasih-sayang, bukankah dorongan untuk memperoleh cinta dari seseorang yang ‘istimewa’ menjadi teramat kuat?

Masya’ Allaah… Berat nian beban yang dipikul muda-mudi di masa kini. Lebih berat lagi, kebanyakan muda-mudi Islam itu belum dapat segera menikmati keromantisan sekenyang-kenyangnya, sebab mereka belum mampu menikah.

Lebiiiih berat lagi, lama banget jarak waktu antara dimulainya tahap kematangan seksual mereka dan mampunya mereka mandiri secara finansial untuk memasuki jenjang pernikahan. Bukan sekedar sehari dua hari atau pun seminggu dua minggu. Masa penantian ini bisa bertahun-tahun. Tentu, ini menimbulkan tekanan kejiwaan yang cukup berat di kalangan muda-mudi Islam.

Nganggur Salah, Cari Kerja Pun Salah

Ketika seruan segera nikah dituruti banyak muda-mudi aktivis masjid yang belum mapan, lalu rumah-tangga baru ini benar2 kewalahan memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat dan kerabat mereka acapkali cuek wek wek. Biasanya, para pasangan yang kelimpungan itu paling2 diminta sabar, sabar, dan sabar teruuuus.

Sebagian dari orangtua yang sudah tua dan telah mapan malah mengacungkan ‘kata-kata mutiara’ yang manis di mulut, tapi pahit di telinga: “Rajin pangkal kaya, malas pangkal miskin.” Mereka pikir, kemiskinan muda-mudi itu pastilah hasil dari kemalasan.

Mereka belum ngerti, tak sedikit orang kaya bermalas-malasan. Mereka hidup berkecukupan dengan mengandalkan bunga deposito bank dan dividen saham perusahaan besar.

Mereka yang menganggap rendah orang-orang miskin itu kurang observasi, banyak orang melarat tak sempat bermalas-malasan. Setiap hari, setiap siang, dan setiap malam, mereka kerahkan tulang dan keringat demi mengais rezeki.

Padahal, putih tulang dan basah keringat itu seringkali tak dapat diandalkan. Udah banting tulang peras keringat, tetaaap aja kaum yang lemah itu melarat. Meski udah rajin bekerja bertahun-tahun, kebutuhan hidup mereka masih kurang terpenuhi. Bahkan, banyak anak-anak miskin meninggal dunia lantaran sakit karena orangtua mereka yang masih muda dan belum mapan tidak mampu membiayai pengobatan.

“Mengapa muda-mudi itu masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan mereka sudah bekerja keras dan meyakini bahwa Allah ialah Maha Pemberi rezeki?”

Salah satu sebab utamanya, dalam pengamatan Abu Syuqqah, adalah dominasi perusahaan besar pada semua bidang kehidupan. Kenapa dominasi ini menyengsarakan kaum miskin, berikut ini penjelasan kami.

Produk usaha kecil yang dapat dikerjakan di rumah sendiri hampir selalu kalah bersaing dengan produk industri dari perusahaan besar. Akibatnya, tidak hanya pria muda, tetapi wanita muda pun terpaksa keluar meninggalkan rumah berbondong-bondong untuk saling berebut pekerjaan.

Namun, jumlah pencari kerja itu terlampau besar bila dibandingkan dengan lowongan yang tersedia. Makanya, sesuai hukum ekonomi, tak sedikit muda-mudi yang miskin itu terpaksa bersedia menerima upah di bawah ‘upah minimum’ yang ditetapkan Pemerintah. Padahal, ‘upah minimum’ itu sendiri teramat kecil, nggak cukup tuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri, apalagi kebutuhan rumah-tangga.

Akibatnya, yang melarat itu tetap melarat, walau rajin bekerja. Susah, kan?

Indahnya Gaul Yang Tertata

Di pertengahan bab pertama, kita penasaran ngadepin dua macam dilema muda-mudi Islam yang bahayanya tidak kalah dari yang ‘kebut2an’: [1] Nganggur salah, cari kerja pun salah. [2] Nunda nikah salah, nikah dini pun salah. Padahal, mereka yang menghadapi dilema tersebut sudah berhati-hati dan tidak melanggar aturan. Tapi, kenapa mereka yang kurang gaul ini mengalami konflik batin dan jauh dari kesuksesan? What’s wrong with them?

Iya sih, mereka udah patuh ama aturan umum dari luar diri mereka. Tapi, mereka belum menyusun ‘aturan’ khusus untuk mereka dari dalam diri mereka sendiri. Hubungan dengan orang lain (termasuk lawan-jenis) mereka biarkan ‘mengalir’ begitu saja tanpa penataan. Mereka belum mengikuti metode gaul tertentu yang mereka tetapkan untuk mengatur pergaulan diri mereka sendiri.

Ibaratnya, motor baru 150 cc yang mereka punyai tidak mereka kendarai. (Bannya nggembos ‘kali, ya?) Mereka berjalan kaki sambil menyeret motor ini di jalur pantura Jawa, pada malam lebaran, dari Jakarta menuju Semarang. Ironis, kan? Lebih ironis lagi, mereka biarkan begitu saja ribuan kendaraan umum berroda empat berlalu-lalang melewati mereka. Mereka tidak menumpang kendaraan. Hasilnya, walau mereka berhati-hati berjalan kaki dan mematuhi semua aturan lalu lintas, mana mungkin mereka sampai di tujuan di hari lebaran?

Sekedar berhati-hati dan tidak melanggar aturan ternyata belum memadai. Makanya, jangan sekadar patuhi aturan, dong! Kita butuh metode perjalanan yang efektif. Dengan kata lain, kita perlu memanfatkan metode gaul yang efektif.

Bagaimanakah metode gaul (terutama dengan lawan-jenis) yang efektif? Kita akan membahasnya lebih lanjut di bawah ini.
Efektif Ikhtiar Semenjak Dini

Omong2… Kami seneng lho, nyodorin perumpamaan ‘tuk ilustrasi gagasan. Kayak tadi, kami pake istilah motor 150 cc, jalan kaki, kendaraan umum, aturan lalu lintas, dll. Mempermudah pemahamanmu, kan? Atau kau malah tambah pusing? Nggak suka bahan mentah? Maunya yang gampang ditelan bulat2 tanpa dimasak dulu?

Aduuuh, jangan manja, dong! Jangan mentang2 punya motor keren, trus tancap gas ‘unjuk gigi’ buat beli odol di kios sedekat 10 meter! Jangan mentang2 punya HP mutakhir, trus tiap hari sms-an ber-jam2 ama ‘tetangga kos’ di kamar sebelah! Jangan mentang2 tes semesteran telah dijadwal waktunya, trus belajarnya pake Sistem Kebut Semalam! Jangan mentang2 nikahnya kelak kalo udah siap berumah-tangga, trus ta’arufnya pake ‘SKS’: Sistem Kebut Sepekan!

Kalo nggak keberatan make Sistem Kebut Sepekan menjelang peminangan, itung dulu brapa lama kita akan hidup bersama suami/istri! Jika kita nikah pada usia 25 dan meninggal pada usia 75, maka kita akan hidup bersama suami/istri kita selama 50 tahun! Bayangin! Dua pertiga dari umur kita ini kita jalani bersama suami/istri kita. Akankah kita pertaruhkan masa 50 tahun hidup bersama hanya berdasarkan kenal-mengenal selama seminggu atau beberapa hari saja? Atokah kita siap kawin-cerai berulang-kali?

Kalo iya, bandingin! Jika seorang mahasiswa gak lulus suatu matakuliah, mungkin ia bisa ngulangi 5 kali dalam 5 tahun dengan kepala tegak! Tapi, jika kita gagal ngejalin hubungan manis dengan suami/istri kita, mungkinkah kita kawin-cerai 50 kali dalam 50 tahun dengan wajah polos bak bayi berumur 5 bulan? GilĂ© benerrrr!!! (Atokah kita ini anti cerai, dan pilih pura2 bahagia dalam rumah-tangga yang goncang melulu gara2 ‘beli kucing dalam karung’?)

Padahal, kalau saja penyebab kegagalan itu terdeteksi dan diatasi lebih dini, bukan hanya menjelang nikah, maka kemungkinan goyahnya rumah-tangga bisa berkurang drastis. (Belajar sungguh2 tiap hari, bukan hanya menjelang tes, juga mengurangi kemungkinan gagalnya kita dalam tes semesteran.)

Secara demikian pula, seandainya kesuksesan karir telah kita rintis dengan ‘kendaraan’ jejaring sejak dini, bukan hanya saat cari kerja selepas wisuda atau nganggur seusai PHK, maka peluang sukses kita pun lebih terbuka lebar.

Nah, lo!! Kayaknya ada pembaca yang manggut2, mengangguk-anggukkan kepala pertanda ngerti. Hihihi… Bagus!

Bila rajin belajar semenjak dini itu memperbesar peluang suksesnya ujian semesteran kita, maka rajin kenal-mengenal dengan lawan-jenis semenjak dini pun memperbesar peluang suksesnya kehidupan kita pada umumnya.

Keberatan ‘tuk rajin kenal-mengenal ama lawan-jenis semenjak dini? Tenaaang… Nggak berat2 amat, loh.… Ibaratnya, belajar dikit demi dikit tiap hari lebih ringan ketimbang belajar banyak sekaligus dalam semalam. Ibarat lain yang lebih jelas, menapaki 20 anak tangga satu demi satu, masing2 setinggi 20 cm, jauh lebih ringan daripada langsung melompat setinggi 400 cm.
Efektif Melangkah Secara Sistematis

Kita yakin, lebih baik menapaki 20 anak tangga satu demi satu, masing2 setinggi 20 cm, daripada langsung melompat setinggi 400 cm. Lebih ringan saat melaksanakan, hasilnya pun lebih sukses. Dengan kata lain, cara ini lebih efektif.

Dengan demikian, usai bersabar menjalin jejaring sekuat-kuatnya dan seluas-luasnya secara tertata atau sistematis, termasuk dengan lawan-jenis, sukseslah kita dalam mengarungi kehidupan.

Selain hidup sukses, ternyata gaul yang tertata secara sistematis itu mampu meredam konflik batin orang yang kurang gaul dan memperindah kecantikan batiniahnya sehingga tidak terlalu gaul. Jadi, solusi tersebut dapat memecahkan tiga macam masalah sekaligus. Sekali dayung, tiga pulau terlampaui.

Bahkan, dengan gaul yang tertata secara sistematis, ‘pulau’ kesuksesan yang bisa kita capai tidak hanya karir, tetapi juga jodoh ‘teman sehidup semati’. Bagaimana cara sistematis meraih kesuksesan berjodoh tanpa mengesampingkan aspek2 kehidupan lainnya, kita akan menyimaknya di bab mendatang. Sekali dayung, lebih dari tiga pulau terlampaui.